Ketika dunia masih berupaya mengadopsi teknologi 5G secara luas, para insinyur dan peneliti jaringan sudah berbicara tentang fase berikutnya: 5G-Advanced. Namun, 5G-Advanced bukan sekadar pembaruan teknis. Ia adalah langkah transisional strategis yang akan mematangkan 5G dan membuka jalan bagi era baru: 6G.

Dalam siklus standar telekomunikasi, versi “Advanced” selalu menjadi fase penyempurna. Sama seperti LTE-Advanced yang menjadi penopang 4G sebelum 5G lahir, 5G-Advanced dirancang oleh 3GPP dalam Release 18 dan 19 untuk menjawab kebutuhan masa depan: kecepatan lebih tinggi, latensi lebih rendah, pemrosesan berbasis AI, serta integrasi yang lebih mendalam dengan IoT, XR, hingga sistem otomatisasi industri.

Yang membedakan 5G-Advanced dari 5G biasa adalah konsep AI-Native Network—di mana kecerdasan buatan tertanam secara menyeluruh ke dalam arsitektur jaringan. Ini mencakup prediksi traffic secara real-time, optimasi spektrum secara dinamis, serta pengelolaan jaringan otonom tanpa intervensi manusia. Menurut artikel Sun et al. (2023) dalam IEEE Communications Magazine, fitur-fitur AI-native ini menjadi fondasi penting untuk mengelola kompleksitas sistem 6G di masa mendatang.

Selain itu, 5G-Advanced memperluas kapabilitas Network Slicing, memungkinkan satu infrastruktur jaringan mendukung berbagai layanan kritikal secara simultan—dari smart city hingga metaverse. Di sektor industri, fitur Time Sensitive Networking (TSN) yang diperkuat mampu mendukung sistem otomasi dengan latensi mikrodetik, seperti kendaraan otonom atau robot pabrik.

Salah satu studi kasus menarik datang dari NTT Docomo Jepang dan Ericsson, yang melakukan uji coba 5G-Advanced dengan fokus pada efisiensi energi dan latensi ekstrem di lingkungan padat kota Tokyo. Hasilnya menunjukkan peningkatan efisiensi spektrum sebesar 40% dan latensi turun ke kisaran <1 ms untuk layanan kritikal—angka yang belum bisa dicapai oleh 5G reguler.

Di sisi lain, T-Mobile dan Nokia juga bekerja sama dalam pengembangan 5G-Advanced untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA) yang lebih stabil dan efisien di area suburban Amerika Serikat. Studi ini membuktikan bahwa 5G-Advanced tidak hanya hadir di level eksperimental, tapi mulai memasuki tahap implementasi komersial.

Namun, seperti semua fase transisi, 5G-Advanced juga membawa tantangan: infrastruktur yang harus ditingkatkan, investasi baru dalam spektrum dan perangkat, serta kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan kompetensi jaringan + AI. Inilah mengapa 5G-Advanced bukan hanya soal teknologi, tapi juga strategi ekosistem.

Kesimpulannya, 5G-Advanced adalah jembatan cerdas menuju jaringan generasi keenam. Ia membawa visi 6G ke permukaan—konektivitas tak kasat mata yang cerdas, adaptif, dan nyaris tanpa batas. Dan bagi negara atau industri yang ingin memimpin dalam revolusi digital berikutnya, memahami dan mengadopsi 5G-Advanced adalah langkah yang tak bisa ditunda.


Referensi Ilmiah dan Industri
  1. Sun, S., et al. (2023). AI Native 5G-Advanced Networks: Architecture and Challenges. IEEE Communications Magazine.
  2. 3GPP. (2023). Release 18 & 19 Specifications Overview.
  3. NTT Docomo & Ericsson. (2023). 5G Advanced Urban Trial Report.
  4. Nokia. (2024). 5G-Advanced as a Bridge to 6G Whitepaper.
  5. Qualcomm. (2023). The Path to 6G Starts with 5G-Advanced.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link